Masih Relevankah Agama di Zaman Modern Ini?

Masih Relevankah Agama di Zaman Modern Ini? – Terdapat perbedaan pandangan yang sangat signifikan mengenai kedudukan agama di dalam masyarakat negara maju (barat) dan negara berkembang (timur). Di dalam masyarakat negara maju, peran agama semakin tergerus oleh peran sains dan teknologi. masyarakat di sana jauh lebih mempercayai hasil temuan sains dibandingkan dengan peran agama dalam masyarakat. Nilai-nilai serta peran agama telah digantikan oleh sikap humanisme, logika dan rasionalitas. Di dalam pola pikir masyarakat negara maju (barat), agama dipandang sebagai suatu hal yang bersifat privat. Artinya, agama bukanlah suatu hal yang harus diumbar dan dipamerkan ke publik. Pandangan seperti ini snagat berbeda dengan bagaimana masyarakat timur, khususnya Indonesia memandang agama. Agama dipandang sebagai suatu hal yang sangat sakral. Bahkan, sekarang ini, ada kecenderungan bahwa masyarakat Indonesia memiliki semangat beragama yang kuat. Militansi dalam hal beragama meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir.

Jika masyarakat barat lebih memandang sains dan ilmu pengetahuan jauh lebih penting dalam kehidupan sehari-hari dan dalam perkembangan peradaban manusia, maka masyarakat Indonesia justru melihat sains dan agama memiliki poris yang sama pentingnya. Dalam hal tertentu, agama dan sains memiliki pandangan yang sama mengenai suatu hal. Misalnya mengenai bagaimana proses penciptaan manusia. Namun, pada kenyataannya, hubungan antara agama dan sains tidak selalu melulu beriringan. Dalam hal mengenai siapa manusia pertama di dunia mislanya. agama Abrahamik (Islam, Kristen, Yahudi) sepakat berkata bahwa Adam lah yang merupakan manusia pertama di dunia bersama Hawa (Eve). Kacamata sains melihat dan berpendapat lain mengenai hal tersebut. Melalui Teori Darwin, sains menjelaskan bahwa manusia pertama memiliki satu garis revolusi dari satu mahluk (katakanlah mahluk X) yang memiliki ratusan hasil evolusi dan revolusi ke dalam beberapa spesies kera. Dalam hal ini, konflik antara agama dan sains pun tidak dapat dihindarkan.

Sifat agama yang transendental yang sulit dipahami oleh kacamata sains yang lebih mengutamakan rasionalitas dan empiris membuat konflik di antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Dalam perkembangan sejarah umat manusia, konflik keduanya terus terjadi dan akan terus terjadi. Dalam agama, keimanan terhadap Tuhan tidak dapat dijelaskan oleh akal sehat dan rasionalitas. Sains tidak dapat membuktikan keberadaan Tuhan melalui data-data empirik dan rasionalitas. Akal manusia tidak akan pernah mampu menjelaskan Tuhan menggunakan rasionalitasnya. Namun, menurut pandangan kaum Atheis dan Agnostik, manusia mampu menjelaskan alam semesta. Manusia menguasai seluruh jagat alam raya.

Dalam perkembangannya dewasa ini, agama mendapatkan tantangan dari sains dan teknologi. Dalam beberapa tahun terakhir, sains dan ilmu pengetahuan telah melakukan lompatan besar dalam bidang inovasi. Para ilmuwan sekarang ini telah berhasil menciptakan mahluk hidup melalui proses kloning. Penciptaan mahluk hidup dahulu hanya bisa dilakukan oleh Tuhan. Namun, sains membuktikan bahwa mereka telah berhasil menggantikan peran Tuhan. Tidak hanya itu, berbagai perkembangan teknologi canggih yang membantu kehidupan manusia telah membawa dampak yang besar terhadap peradaban.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, umat manusia beragama dituntut tidak hanya bermodalkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan dalam menghadapi gencarnya inovasi dan pesatnya inovasi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan sains. Para penafsir kitab suci dan tokoh agama dituntut untuk melakukan tafsir ulaang terhadap kitab suci mereka sesuai konteks zaman yang berlaku. Jadi, diharapkan umat beragama ikut berkontribusi dalam membangun peradaban serta ikut berkontribusi melakukan inovasi di dalam kehidupan melalui sains dan ilmu pengetahuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!